The Tiger and The Turtle
Pada suatu hari hidup seorang anak perempuan yang bernama Nami, Namira Azzahra seorang anak perempuan penuh riang dan semangat setiap harinya, kegiatan sehari-harinya ialah mengejar kakaknya kesana kemari saat kakaknya sedang bermain bola di lapangan, ya kalian benar Nami selalu menjadi anak bawang di team kakaknya dalam pertandingan sepak bola antar tetangga setiap sore itu.
Sedangkan kakaknya bernama Nathan Azzikra adalah seorang anak lelaki tangguh yang sangat menyayangi adiknya itu, mereka hidup dengan orang tua yang lengkap dan penuh kasih sayang dalam keluarga kecil itu, Ayahnya bernama Hari dan ibunya bernama Susan, Hari adalah seorang pekerja harian yang menyetir untuk mengantar majikannya ke sana dan kemari, sedangkan susan bekerja membuka warung nasi di rumahnya, walau kedua orang tuanya bekerja namun Nami dan Nathan tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya tersebut.
Setiap akhir pekan keluarga kecil itu sering menghabiskan waktu dengan berdongeng, bercerita mengenai kisah kisah dahulu kala yang selalu menarik untuk diulang, Hari sangat menyukai seni, dia sangat menikmati pertunjukan drama atau wayang yang sering ia temui di televisi, dia juga senang bermain musik gitar dan suling bambu, seringkali Hari memainkan lagu lagu pengantar tidur untuk anaknya terutama si bungsu Nami yang sering terbangun dan rewel di malam hari karena mimpi buruk atau hanya sekedar ingin bermanja dengan Papanya yang sudah seharian bekerja untuk keluarga kecil itu.
"Papa, Nami gabisa tidur" rewelnya di tengah malam membangunkan ayahnya yang baru saja mau terlelap.
"kenapa nak? tadi kan papa sudah ceritakan cerita si kancil, mau papa ceritakan lagi? atau mau papa main suling supaya Nami tidur?" jawabnya
"Nami mau dua duanya Papa, cerita lagi soal macan sama kura kura itu" pinta Nami pada ayahnya
"OKE!" Hari selalu sangat antusias menyambut anaknya yang menghampirinya hanya untuk diceritakan kisah kisah lampau dan memainkan musik pengantar tidur
dan mulailah Hari , menceritakan kisah tentang seorang macan dan kura-kura , dengan logat khas dan gerakan tangan yang membantu Nami untuk membayangkan kisah yang diceritakan Hari.
"Oke papa mulai yaa...
Pada suatu hari, hidup seorang macan di hutan, macan itu sombong sekali karena kebisaan dan kekuatannya, harimau itu berjalan menyusuri hutan sambil membanggakan diri,
"hei kelinci! lihatlah aku si macan! lariku lebih cepat daripada kamu!"
"hei kancil! jangan macam-macam kau kepadaku atau kau akan ku makan nanti siang!"
"hei kau kerbau! hormatlah kepadaku atau kumakan kau"
karena kesal dengan sifatnya si macan penduduk hutan sepakat untuk bekerja sama membuat lomba untuk mengalahkan si macan sombong itu
lalu datanglah seekor kura-kura ditengah kerumunan warga hutan yang sedang membuat rencana mengalahkan si macan.
"hei kalian! sedang apa?" kata kura kura itu
"hei kura kura apakah kau punya ide untuk mengalahkan macan sombong itu?"
"bagaimana kalau kita adakan lomba lari saja? macan melawan tupai! pasti tupai menang"
seluruh warga setuju dengan ide kura kura, mereka mengajak macan untuk berlomba lari dengan si tupai, macan menyetujuinya dengan sangat angkuh
"aku pasti menang! aku ini tidak terkalahkan"
dimulailah lomba lari itu, dan si macan menjadi juaranya
"lihat? kalian hormatlah kepadaku! aku ini si macan tidak terkalahkan"
kura-kura tidak menyerah, dia berfikir lagi, untuk mengajak macan berlomba lagi, kali ini di amengajak lomba renang
"hei macan apakah kau berani untuk lomba renang denganku?"
macan menanggapinya dengan angkuh "mana mungkin aku takut!"
kura-kura tersenyum, dan bertanya "jika aku kalah aku mau mengajakmu berlomba ketahanan diri, tapi jika kau kalah lombanya berakhir sampai disini dan kau tidak boleh berbuat buruk lagi! setuju?"
"siapa takut! lagipula aku akan menang dan aku akan tetap seperti ini!"
mulailah kura-kura dan macan itu berlomba renang di sungai, seluruh warga hutan menontonnya dengan semangat karena berharap si kura-kura akan menang, namun saya kura-kura tetap kalah
"haha! baiklah kura kura sekarang uji ketahanan apa yang kau ajukan lagi?"
"mudah saja, kau tidak terkalahkan kan? apakah tubuhmu itu tahan api?"
"tentu saja!" kata si macan dengan angkuh
"baiklah kalau begitu, hei!! warga hutan kumpulkan semua kayu bakar kemari dan tumpuk aku dengan si macan dengan kayu bakar! lalu bakar kami hidup hidup, yang berhasil bertahan hidup itulah yang menang!"
seluruh warga kaget dengan ide si kura-kura, dan mereka segera mencarikan kayu bakar untuk lomba terakhir itu
"macan ketika kau ada di tumpukkan kayu dengan api di atasnya kau harus menjawab panggilanku agar aku tau kau sudah mati atau belum"
"oke!""
ditengah tengah bercerita Nami memotongnya
"pah! nanti Nami yang jadi macannya ya!!"
"okeeeee!!! nanti Nami jawab Papa ya rawrr begitu"
"iyaiyaiya!!" kata nami antusias
"lalu dikumpulkan semua kayu bakar dan mengubur kura kura dan macan,
kura kura masuk kedalam cangkangnya yang keras dan mulai berteriak
"ooiii macan masih hidup tidak" "
"raaawwwwrrrrr" suara Nami menjawab cerita ayahnya
"oh! masih menjawab!, sekali lagi oiii macann masih hidup tidak?"
"raawwwrrrrrr" suara Nami menjawab lagi
"abis ini suaranya kecilin sedikit ya Nami, macannya sudah mau mati kebakar" instruksi Hari kepada anaknya, Nami menganggukan kepalanya menandakan dia paham dengan apa yang ayahnya katakan.
"oiiii macan masih hidup tidak?"
"rawr.." suara Nami mengecil sesuai instruksi ayahnya
di tengah tengah bercerita datanglah sang kakak yang ingin ikut untuk menjawab panggilan si kura-kura itu
"Papa! kok nathan ngga diajak?! kan nathan juga mau jawab kura kuranya!" protesnya, Hari sedikit kaget karena tidak biasanya Nathan terbangun jika sudah terlelap tidur.
"kesini kaka masih sekali lagi macannya masih hidup" ajak Nami pada kakaknya
Hari haya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya itu
"ayo Papa lanjutin!" pinta Nathan dengan antusias
"iyaa.. sekali lagi oiii macan maish hidup tidak?"
"rawrr......" suara Nami dan Nathan terdengar lemas menjawab kura kura itu sesuai dengan alur ceritanya
"sekarang udah mati macannya! warga hutan hidup bahagiaa yey!!" girang Nathan
"loh kan tulangnya diambil kura kura dulu kakak, terus nanti dijadiin suling, terus papa mainin sulingnya!" protes Nami pada kakaknya yang mempersingkat cerita yang sedang berlangsung.
"iya kaka tau udah sering! sekarang ayo Papa main sulingnya aja! biar Nami cepet tidur besok sekolah! kakak gamau telat lagi gara-gara susah bangunin Nami!"
Malam itu Hari tertawa terbahak-bahak melihat tingkah anak-anaknya itu
"Nathan inget erus ya cerita macan sama kura kura ini?" jawabnya
"iya! Nathan udah sering denger soalnya mana mungkin Nathan lupa!" jawabnya pada sang ayah
setelah itu mulailah Hari mengambil suling bambunuya dan memainkan lagu pengantar tidur untuk kedua anaknya yang lucu...
"Selamat tidur.. Nami, Nathan, nanti kalau sudah besar jangan lupakan cerita ini ya. bilang sama anak-anak kalian, agar tidak angkuh seperti macan dan bilang pada mereka, kakeknya syaang sekali sama mereka" ucapnya sebelum mengecup kening kedua anaknya dan pergi menuju alam lain...
kini Papa sudah pergi sangat jauh tidak bisa digapai, namun di hati anak-anaknya dia selalu ada disana menghangatkan hari-hari, mengingatkan diri, bahwa selalu ada kata pulang dalam hidup ini.
Tamat.
A story of The Tiger and Ther Turtle
Komentar
Posting Komentar